Malam-Malam Kelam (VII-End)

Post a Comment
Malam-Malam-Kelam


Part satu bisa lihat di sini :D.

Part kedua bisa lihat di sini :D.

Part ketiga bisa lihat di sini :D

Part keempat bisa lihat di sini :D

Part kelima bisa lihat di sini :D

Part keenam bisa lihat di sini :D

Semoga tidak bosan untuk membaca ya Sobat Sajian Kira :D!

***


Kakek dan nenek yang tampak renta itu, masih sanggup memegangi tubuhku yang bergetar hebat menyaksikan tiap benda mati di dalam rumah memancarkan residu. Bagaimana tidak, aku diperlihatkan oleh benda-benda mati yang bisa bersaksi, menceritakan tentang sadisnya sebuah pembunuhan keji. Entah setan bahkan iblis mana yang merasuki si pembunuh, tampaknya istilah manusia tidak lagi bisa diberikan padanya.

Di halaman samping rumah, tempat biasa aku menjemur pakaian serta berlatih yoga, ada Bu Minuk dan Pak Joko sedang bertengkar hebat. Mereka saling adu mulut dan adu argumen. Aku kurang jelas menangkap suara mereka, hanya gerak-geriknya yang bisa kucerna. Bu Minuk menyeret kasar tubuh Pak Joko yang dua kali lebih besar dari tubuhnya. Sesekali ia juga mengayunkan beberapa pakaian dalam yang sangat familiar–. Ah itu punyaku ternyata, brengsek!

Tidak hanya satu atau dua potong, tapi tak terhitung disembunyikan di balik jaket besarnya. Namun, aku tak menemukan pakaian dalam ibu, hanya pakaian dalamku saja. Sialan! Belum selesai dengan itu, tiba-tiba ada suara rintihan yang terdengar jelas, menggema setelah Pak Joko menampar tubuh Bu Minuk dengan kencang. Akibatnya Bu Minuk terjerembab ke dalam selokan belakang rumah yang masih belum selesai dipugar, banyak besi beton menganga dan disitulah ajal menjemput.

Aku berteriak lantang dan mungkin otot leherku tampak menegang, tapi lagi-lagi kakek dan nenek membiarkan suara kencangku keluar seakan-akan mereka tidak mendengar. Aku tak peduli dengan itu karena di saat bersamaan aku mendengar rintihan seorang perempuan, “Mas, kamu kok tega sekali. Berapa kali aku memergoki fetismu yang kambuh. Gila! Kau sudah beristri, Mas!”. Setelah suara lirih itu menggema di telingaku, lalu dengan teganya Pak Joko menampar wajah Bu Minuk hingga tak sadarkan diri dengan tubuh menancap besi.

Arghhhh! Aku tak sanggup melihat residu situasi ini. Argh! Bu Minuk rupanya orang yang melayaniku di warung tempo hari. Berarti yang kemarin aku lihat adalah makhluk astral, pantas saja ia berusaha acuh menenangkanku. Argh! Aku ingin sekali berhenti menyaksikan semua putaran para benda mati bersaksi. Namun, rasa penasaran jauh lebih menguasai diri.

Pak Joko masih gelap mata, bahkan auranya sangat gelap. Sesekali tampak kelebat bayangan hitam mengungkung dirinya. Kakek mengiyakan hal itu, bahwa Pak Joko menganut ilmu hitam. Jasad Bu Minuk digendong sampai ke perkebunan yang saat itu belum terawat seperti sekarang, banyak ilalang dan rumput liar menjadikannya tampak hutan belantara di tengah kota. Tanpa segan, Pak Joko langsung menguburkannya di dalam liang tanah seadanya. Tepat saat itu juga aku baru mengetahui bahwa ada dua makam dengan bentuk kepala nisan yang berbeda meski sama-sama berwarna putih. Nisan dengan bentuk kepala yang lebih besar layaknya lambang raja itu terukir nama kakek serta nisan yang satunya juga tertulis nama nenek. Sepanjang aku hidup, baru kali ini mengetahui kuburan mereka dekat dengan rumah. Kedua orang tuaku tak pernah mengajakku menjenguk kijing-kijing leluhur bahkan sekadar bercerita. Mereka terlalu tertutup padaku atau mereka mungkin tak peduli, hanya mengurus soal duniawi.

Selang hari berganti, tiba-tiba Pak Joko menawarkan bantuan untuk membereskan proses renovasi selokan karena katanya aliran parit itu berimbas pada warga sekitar. Ia juga menambahkan ingin membersihkan kebun belakang biar lebih menghasilkan, nantinya ia tak perlu digaji dan akan meminta hasil kebunnya saja. Tentu saja ayahku membolehkan secara ia adalah orang yang pelit, ketika bisa mengirit bagaimana mungkin ia tolak.

Tepat sebulan kemudian tiba-tiba Kak Ibnu harus dirawat dan masuk rumah sakit akibat terjatuh saat pendakian. Ayah dan ibu yang baru saja pulang dinas, tampak terkejut mendengar telepon dari kawan Kak Ibnu yang menjelaskan bahwa Kak Ibnu berada di rumah sakit, terjatuh akibat tergelincir saat mendaki serta diagnosis baru dari dokter tentang sakit kanker tulang yang dideritanya. Tanpa aba-aba mereka langsung pergi begitu saja tanpa mengabariku. Tepat saat itu pula aku menatap tanggal dan waktu kejadian yang ada di layar ponsel ibu yang sedang menyala. Hari itu juga merupakan tanggal kejadian, dimana sorenya saat aku baru pulang dari kuliah dan mendapati rumah telah kosong. Sialnya aku acuh saja dan terus melenggang masuk dan naik ke lantai dua. Hingga saat malam tiba barulah aku tersadar bahwa rumah belum dinyalakan semua lampunya.

“Aku ingin berhenti melihat ini, Kek, Nek. Aku tak sanggup melanjutkan!” Kini aku menangis tersedu-sedu. Riak-riak di tenggorokkan ikut meramaikan suasana hatiku, memperberat suara tangisan pilu.

“Nduk, pada bagian ini mungkin bisa jadi kunci jawaban mengapa kau bisa di sini dan kelak kau akan tahu harus kemana serta berbuat apa.” Nenek melegakan duri-duri pilu yang mulai menusuk tiap organ tubuhku.

Aku melanjutkan menonton kejadian di mana aku perlahan tersadar. Saat itu, aku hendak turun ke lantai satu dan menyalakan serangkaian lampu, tiba-tiba saja aku disekap dari arah belakang oleh dua orang. Mereka tanpa busana sehelai pun, menyekapku dan menusuk tubuhku denga dua belati, satu di punggung dan satunya di kepala. Aku tewas seketika dan sebelum beberapa malaikat–atau apalah sebutannya yang jelas wujud mereka putih dan transparan serta sangat wangi–itu terbang mendekat, aku berucap lirih,”Aku ingin mengingat kematianku dengan lebih baik atau mungkinkah aku bisa bertemu dengan Kakek dan Nenek. Karena mungkin saja mereka akan merangkulku saat ini, menyelematkanku sebelum hal ini terjadi. Atau bolehkah aku hidup sebagai makhluk lain yang bisa mengutuk mereka karena aku ingin membalas dendam!

Argh! Kepalaku sakit sekali rasanya dan tubuhku terasa tercabik-cabik. Kakek dan nenek terus memelukku dengan kencang, sesekali terdengar tangisan mereka juga.

“Mungkin, itulah penyebab Ayah dan Ibu ingin menjual rumah ini. Biar aku jadikan mereka yang keji itu, menjadi makhluk yang tak akan pernah diterima di alam manapun, bahkan bumi dan langit akan membenci. Mereka tidak bisa hidup atau mati sampai kapanpun harus membayar dosanya!”

Penglihatanku mulai kabur, ingatan yang kurasa baru terjadi beberapa waktu kemarin nyatanya semua itu fana. Ibu-ibu di pasar bukanlah makhluk astral, melainkan aku dan si empunya warung alias Bu Minuk lah yang ruh gentayangan. Aku hampir kehabisan kata-kata menjelaskan bagaimana rentetan kejadian yang ada tampak seperti nyata. Padahal semua itu hanyalah fana, hanyalah pintaku semata yang ingin mati dengan lebih baik.

***

Selesai.

#ChallengeKomunitasODOP #OneDayOnePost


Terima kasih sudah mengikuti cerita bersambung ala kadarnya dari Sajian Kira. Kami tidak ada maksud saru atau nganu. Kami semata-mata ingin bercerita bahwa baiknya Sobat Sajian Kira tetap berhati-hati di mana pun berada. Waspada dan berdoa kuncinya. Jadikan cerita ini hanya sebagai pembelajaran semata saja ya, semoga tidak benar-benar terjadi.

Terima kasih yang sudah menyelesaikan membaca sampai akhir, kami tidak bisa membalas apa pun pada Sobat Sajian Kira kecuali doa agar selalu diberi keselamatan dunia dan akhirat. Salam~.



Note : Terima kasih telah menyempatkan membaca hingga akhir. Silakan jika ingin membagi isinya dan mohon disertakan sumbernya.
Sajian Kira
Ashry Kartika | Penulis Lepas di beragam proyek

Related Posts

Post a Comment