Merdeka di Tengah Pandemi

Post a Comment
merderka-di-tengah-pandemi




Harus saya akui bahwa pandemi merebut banyak energi, termasuk karakter dari dalam diri. Selain berperang melawan virus, pun kita juga berperang pada kewarasan hati. 

Ya, mungkin ini hanya berlaku bagi saya saja. 

Mari tarik mundur beberapa waktu ke belakang sesaat sebelum pandemi terjadi, khususnya di dalam hidup saya.

Kami melalui hidup dengan aktivitas biasa bahkan bisa dibilang jarang terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Aktivitas utama saya setelah menjadi istri adalah tetap bekerja, membantu suami untuk menopang segala kebutuhan mendesak atau untuk dialihkan ke urusan finansial yang bisa menambah pundi-pundi tabungan. Namun, di balik aktivitas itu, kami diharuskan LDM, long distance marriage. Mungkin untuk saya pribadi itu tidak masalah. Mungkin juga suami saya memikirkan hal yang sama. Namun, tidak dengan keluarga kami. Pandemi ini membuat segelintir orang merasa beruntung bisa lebih dekat satu sama lain. Meski pada akhirnya banyak kebosanan yang akan melanda tapi harus bijak disikapi.

Di tengah hiruk pikuk ini, saya pikir tetap ada 2 jalan, jalan buntu untuk tetap berdiam diri atau bergerak mengikuti jalan hati.

Mari kita telaah dua jalan ini berdasar pikiran saya yang pendek dan meletup-letup.

1. Jalan Buntu, Berdiam Diri

Setiap orang berhak dengan jalannya masing-masing, dengan pikiran mereka sendiri. Sebagian orang memilih untuk tetap berdiam diri mungkin karena bingung harus bagaimana atau masih menunggu sesuatu agar datang nantinya.

Berdiam diri juga bukan hal yang salah, mungkin ada suatu hambatan besar yang lebih membutuhkan diri untuk berdiam barang sejenak atau dalam beberapa waktu. Mungkin juga sedang dalam fase untuk tetap stay di posisi. Hanya dirinya dan Allah yang tahu.

Saya pribadi pernah ada dalam posisi ini dalam beberapa bulan. Bukan perkara mudah untuk mengubah tubuh dan pikiran agar masuk ke dalam mode tenang, berdiam diri, tidak banyak tingkah dalam beberapa waktu. Saya memang cenderung introvert tapi tetap tidak bisa berdiam diri. Harus ada suatu hal yang saya lakukan, meskin hanya lima menit.

Selama beberapa waktu saya bergulat pada diri sendiri, mau jadi apa lagi setelah ini, pencapaian apa juga yang paling diinginkan. Namun, lagi-lagi semesta meminta untuk berdiam sejenak, terkurung hanya dalam angan dan benak.

Dalam waktu satu bulan di rumah saja, saya tidak betah. Ya, meski saya ini memang anak rumahan, tapi harus ada satu hal untuk dikerjakan. Sayangnya keterbatasan melanda, dari terbatas bahan baku untuk membuat suatu resep makanan atau juga sekadar berjalan-jalan sebagai bahan baku alam bawah sadar.

Saat pandemi melanda lebih parah, saya telah bersiap semampunya waktu itu. Saya menyiapkan segala bahan baku agar sebulan di rumah tidak sia-sia. Nyatanya saya tetap merasa bosan, terlebih banyak kiri dan kanan yang tetap berkunjung tanpa amanah protokol kesehatan.

Tibalah saat di mana keluarga saya sakit dan lagi-lagi saya harus berdiam diri, tidak bergerak kecuali merawat mereka.

Jenuh, iya?

merdeka-di-tengah-pandemi


2. Bergerak, Ikuti Jalan Hati

Saya pribadi sulit beradaptasi dengan lingkungan, kaku. Saat kejadian ini melanda hingga lebih dari setahun–karena beberapa waktu lalu sudah melewati pandemi anniversary 1 tahun–saya mulai terbiasa dengan ritme kehidupan. Saya berdamai pada diri dan keadaan

Ya, cuma itu jalannya.

Di bulan kedua, saya coba buka laptop usang yang biasanya hanya dipergunakan sebagai fasilitas kerja. Saya coba tulis beberapa imajinasi yang terpendam di dalam benak selama beberapa tahun lamanya.

Sekadar informasi, saya mengikuti beberapa lomba fiksi untuk mengembangkan diri yang ternyata kurang berbakat apalagi hoki.

Selama bulan-bulan berikutnya saya berkutat dengan laptop, menulis, dan menulis tanpa dapat penghasilan. Jika ditanya kerabat atau tetangga yang datang, saya hanya menjawab, “Sedang work form home”. 

Hanya itu saja dan mereka tak akan bertanya lebih lagi apalagi bertanya,”Apa kamu bisa waras di rumah saja padahal biasanya kamu pergi ke kantor tiap harinya, berkutat pada banyak laporan serta pekerjaan kantor lainnya?”. 
Tidak ada yang tanya, satu pun. Barangkali mereka tidak berani karena saya yang terlalu menutup diri, ehe.

Dalam kurun waktu setahun belakang, akhirnya saya menyadari passion akibat menutup diri itu. Saya ingin menjadi penulis, apa pun yang berkaitan dengan menulis

Saya mewujudkannya dengan berani mengikuti event lomba, membuat buku fiksi meski hanya antologi. Lalu saya mengikuti kelas blog yang diadakan oleh Kak Marita dengan biaya gratis. Jadi, tinggal niat. Ini sangat memacu diri saya keluar dari zona nyaman, keluar dari zona fantasi.

Di kelasnya, saya belajar banyak hal dari dasar sampai middle. Mungkin saya hanya orang awam yang terangkat di antara orang-orang expret. Salah satu hal lain yang turut mengangkat komitmen saya untuk tetap berkecimpung di dunia blog karena beruntung disatukan oleh grup ini. Nanti akan saya sebutkan satu persatu para teman blogger awal saya.

Kembali pada topik utama dari case kali ini, ‘Merdeka di Tengah Pandemi’. Menurut saya pandemi atau bukan itu hanya masalah penyebutan. Merdeka pun demikian, meski kadang dibutuhkan secara de facto dan de jure tentang arti dari merdeka dan pandemi itu. Namun, demi kewarasan diri, dua kata itu bisa dipersempit istilahnya di otak, lalu memperbesar segala kemungkinan yang bisa kita gapai, bisa kita lakukan selama itu, selama pandemi masih meraja lela. Tujuannya supaya tetap merasa merdeka dan memberikan dampak baik pada aura diri maupun lingkungan.

Bisa tetap mengikuti passion di tengah arus yang beragam arah datangnya, bagi saya itu diibaratkan sebagai merdeka di tengah pandemi, juga.

Tulisan ini saya niatkan sebagai syarat mengikuti seleksi member Komunitas One Day One Post Batch 9. 
Tulisan ini juga murni dari pemikiran saya, dari hal dasar yang selalu bergeming di benak saya dalam kurun waktu setahun belakangan. 

Oiya, beberapa tulisan ini juga terpengaruh dari teman-teman Blogspedia Batch 2 yang saling berbagi di grup. Ada Kak Marita, Pak Martin, Kak Yunita, Bunda Dina, Kak Ulfah, Kak Sendy, Kak Mairoza, Kak Hamimeha, Kak Nora, Kak Maftuha, Kak Dea, Kak Ilmi, Kak Mya, Kak Zulmi, Kak Widya, Kak Dita, Kak Naqii, Kak Fadmala, Kak Fira, Kak Iva, Kak Palupi, Kak Junita, Kak Windi, Kak Nurita, Kak Aenul, Pak Sugianto, Pak Hamdan, Pak Taufiq.

Saya harap para Sobat Sajian Kira bisa bijak untuk mencerna kalimatnya, tidak tersugesti melakukan hal tidak benar atas nama kebaikan atau pembenaran sendiri.
Jadi, Sobat Sajian Kira pilih jalan yang mana? Sila untuk direnungi karena saya hanya berbagi opini :D!


Note : Terima kasih telah menyempatkan membaca hingga akhir. Silakan jika ingin membagi isinya dan mohon disertakan sumbernya.
Sajian Kira
Ashry Kartika | Penulis Lepas di beragam proyek

Related Posts

Post a Comment