3 Jenis Dawet ini Harus Dicoba

15 comments
3-jenis-dawet-ini-harus-dicoba


Ada yang lagi jalan-jalan terutama di seputaran Kota Purworejo? Nih Sajian Kira bisikin minuman hits dan terpopuler sepanjang masa. Namanya dawet. Eits tapi beda loh sama cendol. Emang apa bedanya? :D

1.       Sekilas Cendol dan Dawet

Sebenarnya saat kami mendengar kata cendol dawet penginnya keterusan nyanyi *seger ... 500an ra nganggo ketan haeeee...

Eits, cendol dan dawet sesungguhnya beda. Apa sih bedanya?

beda-cendol-dan-dawet

a. Cendol

Minuman ini mirip dengan dawet tapi ada perbedaan mendasarnya yakni pada bahan bakunya. Minuman yang berasal dari Jawa Barat ini menggunakan bahan utama tepung hunkwe atau tepung kacang hijau dan diberi tambahan pewarna makanan hijau yang berasal dari daun suji. Namun, di beberapa pasar tradisional setempat sering ditemui cendol warnanya pink dan hijau cetar, ehe mungkin inovasi warna cendol.

Proses pembuatanya dengan menggunakana mesin pencetak khusus sehingga bentuk akhirnya lebih panjang dan halus. Bentuk alatnya seperti gelas panjang dengan lubang-lubang berukuran kecil sebagai tempat cetak cairan tepung hunkwenya.

Tekstur cendol lebih kenyal saat digigit karena menggunakan tepung hunkwe. 

Es cendol disajikan dengan santan gurih dingin, ditumpuk dengan sirop gula merah  lalu diberi bebera potongan nangka.

b. Dawet

Minuman ini berasal dari Jawa Tengah dengan bahan dasarnya menggunakan tepung beras.

Proses pembuatannya dengan menggunakan mesin biasa bentuknya seperti saringan air santan dengan celah lubang lebih besar sedikit. Bentuk yang dihasilkan lebih pendek dan ujungnya runcing kecil-kecil. Bagi yang pertama kali melihatnya mungkin akan melihat dawet sebagai bentuk yang aneh, ehe.

Tekstur dawet lebih lembut dan halus. Beberapa produsen membuat aneka bentuk dawet dari yang sangat kecil dengan diameter sebesar ujung sapu lidi sampai ada yang membuat sedikit lebih besar dari cendol pada umumnya.

Es dawet umumnya disajikan dengan santan gurih dingin, ditumpuk dengan sirop gula merah kental dan diberi tape ketan hijau.

 

2.       3  Jenis Dawet ini Harus Dicoba

Nah ada yang unik nih di Purworjo, ada 3 jenis dawet ini harus dicoba :

a. Dawet Ayu 

dawet-ayu-purworejo

Diberi nama dawet ayu dikarenakan yang jualan ayu, eh salah maksudnya warna dawetnya ayu karena diberi pewarna hijau dari daun suji.  Minuman ini asli dari Banjarnegara dan mendapat proses naturalisasi (aha :D) sehingga bisa masuk ke Purworejo.

Saat ini mudah menemukan produk dawet ayu di setiap sudut Purworejo, tapi beberapa waktu belakang semenjak ada pesaingnya muncul, dawet ayu tidak seramai dulu dicari orang. Tak apa, rasa dawet ayu tetap ngangenin untuk kembali diicip kok :D.

Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa dawet ayu dari Banjarnegara ini menggunakan tepung beras dan tepung beras ketan serta diguyur dengan sirop gula merah yang khas. Ada potongan nangka di dalam kendi sirop gula merah sehingga perpaduan rasa magis dari gula dan nangka bercampur di dalam harumnya kendi tanah liat. Itu salah satu ciri yang membedakan dengan yang di Purworejo :D.

Satu porsinya dipatok seharga Rp 7.000, kalau belum naik ya. :D

b. Dawet Ireng

dawet-ireng-purworejo

Nah, ini bukan pendatang baru di dunia Dawet tapi sekarang cukup populer dan marak. Jika bertanya pada orang-orang di Purworejo tentang dawet ireng mana yang enak, mereka akan sepakat menunjuk pada dawet ireng yang ada di Jembatan Butuh, jembatan yang berada di ujung barat Kabupaten Purworejo yang berbatasan dengan Kabupaten Kebumen. Karena saking banyak dan menjamurnya usaha dawet ireng di seantero Purworejo ini :D. 

Menurut saya mana saja enak, mau dawet yang di seputaran pusat kota atau pinggiran kota bahkan yang bisa ditemui di perbatasan Kota Purworejo dengan kota para tetangga itu pun juga enak, :D .Terutama kalau diminum waktu letih, haus, panas akan bertambah nikmat bukan :D?

Oiya, dawet ireng ini biasanya disajikan dengan ketan ijo dan terkadang diberi potongan nangka juga biar tambah wangi selain wangi santan gurih yang diberi daun pandan tentunya.

Sedikit informasi mengapa dawet ireng ini baru booming beberapa tahun belakangan karena usaha ini tadinya turun temurun dari satu keluarga. Penemu dawet ireng pertama kali bernama Bapak Ahmad Dansri yang menjajakan pada tahun 1960an (lamaaa sekali ya). Beliau awalnya hanya menjajakan dengan berjalan kaki menyusuri jalan dengan beban dipundaknya, menghampiri tiap persawahan yang baru selesai digarap. Menurut anaknya, Wagiman (generasi ke 3) , kakeknya ini hanya berjualan dengan upah barter. Semangkuk dawet yang pada saat itu harganya masih jauh dari 10rupiah dibarter dengan beras atau hasil alam lain. [ :,) ]

Beberapa tahun berikutnya, beliau mencoba membuka warung karena mulai sepuh (tua). Beliau membuka warung di depan rumah dengan gubug sederhana tepat di bawah pohon bambu di timur Jembatan  Butuh. Jika teman-teman melakukan perjalanan dari Timur ke Barat (bukan mencari kitab suci) dan melewati Purworejo, pasti akan menemukan lokasi ini karena persis di pinggir jalan dan ditandai dengan ramai orang.

Harga per porsinya sekitar Rp 5.000 dan ada juga tape ketan yang dijual Rp 1.000 per bungkus sebagai pelengkap dawet ireng yang terpisah. Mengapa dipisah, karena beberapa orang kurang menyukai perpaduan manis dua menu ini.

c. Dawet Goreng

dawet-goreng-purworejo

Nah, yang ini agak sedikit eksentrik tapi tetep enak rasanya. Bisa ditemui di daerah Pandanrejo, Kecamatan Kaligesing. Dawet goreng ini hanya bisa ditemui di sana karena menu ini limited edition, ehe. 

Bahan utama yang sulit dicari menjadi problem utama mengapa belum bisa dipasarkan di sembarang tempat terlebih tidak semua produsen bisa meraciknya seperti penemu dawet goreng pertama. Bahan utamanya adalah umbi ganyong yang mulai langka di alam. Jika mencari bahan baku ini perlu melintas daerah bahkan kabupaten.


Apa yang membuatnya berbeda dengan dawet lain sehingga terkesan eksentrik? Jelas karena digoreng. Dawetnya nggak digoreng kok tenang, yang digoreng adalah isiannya. 


Dalam semangkuk penyajiannya berisi dawet bening dengan tambahan tauge fresh, tahu bacem goreng yang dipotong dadu kecil, irisan timun kecil, taburan bawang goreng, dan disiram dengan kuah gula merah atau gula kelapa ditambah sedikit sambal di atasnya. 

Rasanya memang beda, tidak manis seperti lainnya tapi ada perpaduan gurih dan pedas. 


Tidak semua orang bisa meracik dengan takaran yang pas, oleh karenanya baru bisa ditemui di Pandanrejo saja tepatnya di Pasar Pendem, Pandanrejo, Purworejo.

 

3.       Penutup

Tiap daerah memiliki minuman khas sendiri, beberapa disadur dan diaplikasi sehingga menjadi inovasi menu terbarukan. Namun, ketika membuat sesuatu yang berbeda, yang otentik, dan bisa diterima masyarakat tentunya menjadi kesenangan sendiri bagi si pembuat dan asal daerahnya.

Menurut kami, 3 jenis dawet ini harus dicoba oleh para pelancong atau siapa saja yang singgah ke Purworejo. Selain karna harganya yang murah, temen-temen juga disuguhkan pemandangan yang indah. Kami tunggu di Purworejo ya :D

 

 

Sumber :

https://www.youtube.com/watch?v=kjORkeodLAE

https://www.youtube.com/watch?v=sygcLuNRlvc&t=144s


Note : Terima kasih telah menyempatkan membaca hingga akhir. Silakan jika ingin membagi isinya dan mohon disertakan sumbernya.
Sajian Kira
Ashry Kartika | Penulis Lepas di beragam proyek

Related Posts

15 comments

  1. Mbak demi apa aku kangen banget sama dawet jembatan butuh :') sebernya rasanya so so sih, tapi karena udah kadung jadi keunikan tersenduru jadinya pas nggak mampir asa giman agt kalau lewat.

    anyway aku baru tau perbedaan cendol sama dawet ada di bahan bakunya hahaha tapi kalau dirasa dawet jateng sama cendol tangerang sini beda sih teksturnya di mulut. jadi pingin minum es dawet atau cendol nih malem-malem

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku ngedit ini aja sambil nelen ludah mom :D wkwk..
      iya pernah makan juga cendol jakarta, rasanya lebih kenyal tapi kurang senampol yang di sini, kayaknya karena ga pakai apa gitu deh, :D wkwk
      btw terima kasih sudah mampir Mok Widya :D

      Delete
  2. Replies
    1. wkwkw sama kak, aku ngedit juga sambil komat kamit pengej beli lagi besok pagi :D
      btw terima kasih sudah mampir Kak Devarisma :D

      Delete
  3. Masya Allah mbak aku ngiler deh.

    Aku biasanya suka dawet ayu. Senansi rasa gula merahnya aku suka.

    Nah dawet goreng aku baru dengar ternyata emang g disemua tempat ya wah wah.aku dapat pengetahuan baru nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mom, aku lebih suka dawet ayu, lebih membekas aja gitu yang pertama dateng wkwk.. tapi dawet ireng juga enak sih :D wkwk..
      dawet goreng rasanya nano-nano Mom :D wkw.. nyarinya susaaahh bener dah :D
      btw terima kasih sudah mampir Mom Hamim :D

      Delete
  4. Purworejo kaya akan dawet, jadi kepingin minum dawet.Apalagi saat musim panas begini,...seger
    Penasaran banget dengan dawet gorengnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pas banget kak kalo diminum panas-panas buat ngelepas dahaga :D
      kuy berburu dawet goreng kak, :D
      terima kasih sudah mampir Kak Setyowatie :D

      Delete
  5. Purworejo kaya akan dawet, jadi kepingin minum dawet.Apalagi saat musim panas begini,...seger
    Penasaran banget dengan dawet gorengnya

    ReplyDelete
  6. Purworejo kaya akan dawet, jadi kepingin minum dawet.Apalagi saat musim panas begini,...seger
    Penasaran banget dengan dawet gorengnya

    ReplyDelete
  7. di Sukabumi lumayan banyak juga yang jualan dawet ayu, rasanya bener-bener manis, keras banget gula merahnya. Kalau dawet goreng baru denger nih, dan kayanya di sini belum ada. Jadi penasaran dengan rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya manis gula merah dan gurih dari tahu bacem goreng, Kak :D nano-nano tapi masih bisa dinikmati :D
      btw terima kasih Kak Yonal Regen sudah berkunjung :D

      Delete
  8. baru tahu dong ada dawet goreeeeng! jadi penasaran pengen nyoba, mb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehe kuy mom nyari :D tapi susah nyari penjualnya :'(
      btw terima kasih sudah mampir Mom Sendy :D

      Delete
  9. Yang 2 udah pernah nyoba, cuma yg dawet gorengnya belum.. Duh, jadi pengen 😆

    ReplyDelete

Post a Comment